Senin, 26 April 2010

Jelajah ke Kesepuhan Aulia

Malam diselimuti kabut tipis dilereng gunung Gede sekitar jln raya Sukabumi menuju tempat dimana tokoh aulia dimakamkan, penulis beserta beberapa orang pengikut memandang jalan yang cukup gelap dikanan kiri hanya sorot lampu mobil yang menerangi alam sekitar, kami masing-masing berbicara dalam hati menanggapi suasana ini, karena kami tidak ada pembicaraan satu sama lain, walau mata tetap terjaga (tidak tidur), deru suara mobil memecah suasana sepi dan gelap areal dimana kami berjalan, hanya ada beberapa rumah penduduk yang itupun sangat jauh jarak satu rumah dengan rumah lainnya.
Jalan mendatar telah kami lalui, menuju jalan mendaki berbelok kemudian jalan menurun lagi terus memasuki jalan berkerikil,melintasi pepohonan tinggi yang tumbuh dilereng bukit, makin terasa begitu "menjanjikan" suasana tempat tersebut jalan didepannya semakin pekat dibantu oleh rimbunnya pohon yang menutupi jalan,guncangan-guncangan jalan yang buruk berkerikil kian menggoyang kami didalam mobil, duh...kapan sampainya keluh salah satu teman dengan nada yang menyiratkan kelelahan, jalan kembali menanjak terus makin menanjak kemudian berbelok memasuki jalan yang lebih kecil (hanya masuk satu mobil) ilalang mebekas ditengah diantara bekas jejak roda mobil yang memang hanya itu jalan yang ada. Tidak seberapa lama kemudian tampak pilar gerbang yang menandakan telah dekat dengan tempat yang kami tuju.
Benar tampak bangunan seperti pendopo bernuasa seperti musholah dengan bentuk atap bangunan seperti kubah, bangunan seluas 15 M2 persegi dengan halaman cukup luas mengelilingi bangunan induk. Kami berkumpul diarea parkir melepaskan lelah, disisi bawah areal parkir terdapat kamar kecil dan tempat wudhu yang cukup memadai ,waktu sudah menunjukan jam 1.30 dini hari, terasa dingin juga badan ini,apalagi saat menyentuh air untuk berwudhu ,pikir penulis akan makin dingin tentunya, tapi sungguh diluar dugaan penulis tadi, malah setelah ambil wudhu rasa dingin tidak terasa lagi, kami mulai memasuki area bangunan
induk,dalam hati penulis mengucap salam,rombongan kami memasuki ruangan dimana "Beliau" berada, pintu kami tutup dan dibalik dalam dinding ada "teks salam puja puji" yang mendoakan pada Junjungan RosulAllah,para sahabat dan aulia lainnya,kemudian kami sholat hajat sebelum bertawasul kepada "Beliau" tentunya utama kepada Junjungan kita RosulAllah dan keluarga serta para sahabatnya. Setelah kami selesai bertahlil dan berdoa. Rombongan masing-masing berzikir dengan asma Allah,penulis berzikir sambil sempat merenung mengapa "beliau" dimakamkan ditempat yang seperti ini, diareal pegunungan yang jauh dari penduduk, saat ini saja cuma ada beberapa rumah, apalagi pada masa "beliau" hidup. Zikir bergema dalam hati makin larut terasa makin damai,makin hening dan gema zikir semakin terdengar ditelinga ini lebih jelas dan mengalahkan suara seorang peziarah lain yang sedang mengaji, penulis merasakan sesuatu yang membuat hati ini menjadi sedih,senang,damai dan bergemuruh, penulis menarik napas dan membuka mata menghilangkan perasaaan tersebut, wow berhasil perasaan hatiku kembali normal, gerangan apa yang menjadikan penulis terasa begitu menakjubkan.
Rupanya itulah jawaban mengapa "beliau" memilih tempat pada masa akhir hidupnya didaerah seperti ini, ternyata mendapatkan kekhusuan yang luar biasa. Beliau menurut "pengusus makam" adalah seoarang santri bersama dua karibnya datang dari daerah Cirebon dan menjalankan misi mengajarkan Islam untuk wilayah Caringin dan sekitarnya bertalian juga membantu lasykar "Kesepuhan" Cirebon,Mataram dan Banten saat menggempur Belanda pada saat penyerangan pelabuhan Batavia, dimana wilayah tersebut menjadi basis komando lasykar (mungkin ini ada kaitannya dengan sejarah Waringin Kurung). Dan sahabatnya yang lainpun bertempat tinggal disekitar daerah tersebut yang berjarak tidak begitu jauh, yaitu daerah Limus Nunggal dan Tangkil (arah Ciawi menuju Sukabumi), penulis belum berkesempatan datang mengunjunginya karana waktu dan kondisi dan mungkin juga belum waktunya.
Makam yang penulis kunjungi adalah aulia yang bernama Syekh M.Yusuf Bunder Giling Kunci? dimana beliau menjelang akhir hidupnya menyepi didaerah sekitar Pancawati di bebukitan areal tersebut. Penulis tidak lebih hanya ziarah dan mendoakannya,sekitar satu jam disana kemudian rombongan kami kembali meyusuri jalan dimana kami datang tadi.
Hasil renungan penulis begitulah seoarang tokoh yang mempunyai rasa tanggung jawab dan patuh mengemban tugas walau harus meninggalkan kampung halaman dan sanak familinya.
Tidak perlu gembar gembor untuk dipuji orang dalam menjalankan amar ma'ruf nahi munkar, keharuman ibadatnya membuahkan hasil (didunia) makamnya banyak didatangi peziarah untuk mendoakannya, apalagi kelak dia akhirat insya Allah beliau berada ada dideretan kekasihNya. Pempelajaran bagi kita generasi sekarang fisabilillah itu banyak cara, bukan hanya diartikan dengan pertempuran fisik semata,tapi banyak cara untuk penjawantahannya senilai ibadat fisabillilah mati sahid. Penulis tandaskan dihati banyak tokoh dari daerah lain yang menutup hayatnya diluar kampung halamannya ini karena satu niatan Hijrah dan juga menjalankan amar ma'ruf nahi munkar, termasuk juga Buyut penulis menjalankan hal serupa,sayangnya beliau tidak mencatat/menulis asal nama daerahnya hanya disebut dari wetan (Cirebon) dan wafat meninggalkan kakek (anak tunggal) pada usia 10 tahun yang masih belum mengerti arti asal usul Buyut penulis, hanya dua buah buku "babat" hasil karya tulisnya pada masa hidup beliau. Dan buku ini kebetulan berada pada penulis untuk bahan "peringatan" dan kenang-kenangan penulis khususnya dan keluarga kami,siapa dan seperti apa "Buyut" penulis masa hidupnya.
Semoga para sesepuh kita mendapat tempat layak disisiNya dan semoga doanya terdahulu melimpah jua pada kita sebagai keturunannya.......Amin ya Robb.

Awal April 2010 Ki Asykar Al-Safar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar