
Hidup adalah jalinan antara manusia, ruang dan waktu. Manusia senantiasa akan berganti, ruang selalu berubah wujud dan waktu tak pernah berhenti. Itulah panggung kehidupan kita. Sejarah hanyalah sekelumit upaya manusia untuk mengenal dirinya melalui tangga waktu: dari mana dia datang, di mana dia berada dan ke mana dia akan menuju. Apa yang kita warisi, apa yang kita buat dan kita pakai, lalu apa yang akan kita wariskan (kutipan ditulis oleh Pa Saleh Danasasmita), sebagai bahan renungan.
"Ka hareup ngala sajeujeuh ka tukang ngala salengkah" untuk maju setapak kita memerlukan pengalaman satu langkah lebih dulu Tanpa membina diri terus-menerus, kita akan kehabisan bekal. Demikianlah ujar pepatah para leluhur.
Dari jaman Siliwangi, kita diwarisi sebuah naskah kuno yang disebut SISKANDANG KARESIAN DAN KUNDANGEUN URANG REYA (untuk pegangan hidup orang banyak). Naskah ini tersiri atas 30 lembar dan pada akhir naskah dicantumkan tahun penulisannya, yaitu NORA CATUR SAGARA WULAN (tahun 1440 (Saka) atau 1518 M. Naskah ini disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode KROPAK 630.
Sebagian isi dari naskah itu, ada baiknya juga kita ketahui sebagai berikut:
1. Dasakerta (kesejahteraan yang sepuluh)
2. Tapa di Nagara
3. Panca parisuda
4. Hidup yang penuh berkah
5. Parigeuing dan dasa pasanta
6. Tritangtu di bumi (tiga posisi di dunia)
1. Dasakerta (kesejahteraan yang sepuluh)
Kesejahteraan hidup dapat kita capai bila kita mampu memelihara kegunaan 10 bagian tubuh, yaitu telinga, mata, kulit, lidah, hidung, mulut, tangan, kaki, tumbung (dubur) dan alat kelamin (baga atau purusa). Dituturkan umpamnya (artinya saja)
"Telinga jangan mendengarkan hal-hal yang tidak layak didengar karena
menjadi pintu bencana penyebab kita menemukan kesengsaraan di dasar
kenistaan neraka, tetapi bila (telinga) digunakan untuk hal-hal yang
baik, kita akan memperoleh keutamaan dari pendengarannya"
[Dukun bayi jaman dulu selalu membisikkan ajaran ini pada telinga kiri si bayi setelah bayi itu dimandikan. Hal ini menunjukkan bahwa hal yang pertama-tama diperkenalkan kepada manusia adalah ajaran moral tentang hidup bersusila]
2. Tapa di Nagara
Naskah itu menyebut sebagai contoh 29 macam pekerjaan yang bermanfaat bagi umum, seperti menteri, bayangkara, pandai besi, prajurit, petani, anak gembala, dalang dan lain-lain. Lalu dijelaskan "Eta kehna turutaneun, kena eta ngawakan tapa di nagara" (semua itu patut ditiru karena mereka itu melakuan tapa dalam negara) Jadi yang dimaksud dengan tapa ini adalah melaksanakan pekerjaan yang berguna untuk kepentingan umum. Oleh sebab itu penulis Carita Parahiyangan mencela sikap Ratu Dewata karena ia melakukan cara tapa yang tidak sesuai dengan tugasnya sebagai raja dalam keadaan negara terancam musuh
3. Panca parisuda
Panca parisuda mengandung arti LIMA OBAT PENAWAR. Ini kaitannya dengan sikap menerima CELAAN atau KRITIK. "lamun aya nu meda urang, aku sapameda sakalih" (bila ada yang mengkritik kepada kita, terimalah kritik orang lain itu) Anggaplah:
- ibarat kita sedang dekil menemukan air untuk mandi
- ibarat kita sedang burik ada orang yang meminyaki
- ibarat kita sedang lapar ada orang yang memberi nasi
- ibarat kita sedang dahaga ada orang yang mengantarkan minuman
- ibarat kita sedang kesal datang orang yang membawakan sirih-pinang (sepaheun)
Dengan sikap seperti itu dikatakannya
"kadyangga ning galah cedek tinugalan teka"
(sama halnya dengan galah sodok dipapas runcing)
[Galah cedek (bambu runcing) makin pendek makin baik karena
kemungkinan patah makin berkurang. Dengan kritik akal budi
kita akan menjadi makin kukuh dan tajam]
"lamun makasuka urang kangken pare beurat sangga"
(kalau senang menerima kritik orang, kita akan seperti padi yang runduk karena berat berisi)
4. Hidup yang penuh berkah
Pelengkap hidup agar selamat dalam kehidupan dan mendapat berkah dalam
rumah tangga harus
- cermat (emet)
- teliti (imeut)
- rajin (rajeun)
- tekun (leukeun)
- cukup sandang (paka predana)
- bersemangat (morogol-rogol)
- berpribadi pahlawan (purusa ningsa)
- bijaksana (widagda)
- berani berkurban (hapitan)
- dermawan (waleya)
- gesit (cangcingan)
- cekatan (langsitan)
Prinsip hidupnya adalah Tidak menyusahkan orang lain, hidup berkecukupan, tetapi tidak berlebihan.
"Jaga rang hees tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba
ponyo, ulah urang kajongjonan"
(Hendaknya kita ingat, bahwa tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar pelepas haus, makan sekedar penghilang lapar, jangan kita berlebihan)
5. Parigeuing dan dasa pasanta
Hidup yang cukup itu harus disertai tiga kemampuan (tri"geuing), yaitu
GEUING, UPAGEUING dan PARIGEUING.
GEUING adalah "bisa ngicap ngicup dina kasukaan"
(bisa makan dan minum dalam kesenangan)
UPAGEUING adalah "bisa nyandang bisa nganggo, bisa babasahan bisa dibusana"
(bisa berpakaian, bisa punya cadangan pakaian bila yang lain dicuci, bisa berdandan)
PARIGEUING adalah "bisa nitah bisa miwarang, ja sabda arum wawanginya mana hanteu surah nu dipiwarang"
(bisa memberi perintah, bisa menyuruh karena tutur bahasa yang manis sehingga orang yang disuruh tidak merasa jengkel hatinya)
PARIGEUING memerlukan dasa pasanta (10 cara penenang), yaitu
1. bijaksana (guna)
2. ramah (rama)
3. sayang (hook)
4. memikat (pesok)
5. kasih (asih)
6. iba hati (karunya)
7. membujuk (mupreruk)
8. memuji (ngulas)
9. membesarkan hati (nyecep)
10. mengambil hati (ngala angen)
Tujuan dari hal di atas adalah
"nya mana suka bungah padang-caang nu dipiwarang"
(agar senang dan penuh kegairahan orang yang di suruh)
Betapapun harus kita akui, bahwa seseorang menjalankan perintah dengan penuh rasa senang dan gairah, prestasinya akan maksimal. Yang penting terutama adalah janganlah kita mengabaikan harga diri seseorang.
6. Tritangtu di bumi (tiga posisi di dunia)
Dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat tradisional, ada tiga posisi yang menjadi tongak kehidupan, yaitu
- RAMA (pendiri kampung yang menjadi pemimpin masyarakat dan keturunannya yang mewarisi jabatan itu),
- RESI (Ulama atau pendeta)
- PRABU (raja, pemegang kekuasaan)
Dalam naskah dianjurkan agar orang berusaha memiliki:
- bayu pinaka prabu (wibawa seorang raja)
- sabda pinaka rama (ucapan seorang rama)
- hedap pinaka resi (tekad seorang resi)
Tugas ketiga tokoh itu dalam kropak 632 ditegaskan
"jagat daranan di sang rama, jagat kreta di sang resi, jagat palangka di sang prabu"
(urusan bimbingan rakyat menjadi tanggung jawab sang rama/pemuka masyarakat, urusan kesejahteraan hidup menjadi tanggung jawab sang resi/ulama, dan urusan pemerintahan menjadi tanggung jawab raja/ pemegang kekuasaan).
Ketiga pemegang posisi itu sederajat karena "pada pawitannya, pada muliyana" (sama asal-usulnya, sama mulianya). Oleh karena itu diantara ketiganya
"haywa paala-ala palungguhan, haywa paala-ala pameunang, haywa paala-ala demakan. Maka pada mulia ku ulah, ku sabda ku hedap si niti, si nityagata, si aum, si heueuh, si karungrungan, ngalap kaswar, semu guyu, tejah ambek guru basa dina urang sakabeh, tuha kalawan anwam"
(jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah. Maka berbuat mulialah dengan perbuatan, dengan ucapan dan dengan tekad yang bijaksana, yang masuk akal, yang benar, yang sungguh-sungguh, yang menarik simpati orang, suka mengalah, murah senyum, berseri di hati dan mantap bicara kepada semua orang, tua maupun muda)
Tritangtu sebagai sistem kepemimpinan itu masih dilaksanakan di KANEKES. Orang BADUY menyebutnya TANGTU TELU (tritangtu). Ketiga orang PUUN di Kanekes masing-masing menempati posisi Resi (Puun CIKERTAWANA), Rama (Puun CIKEUSIK) dan Ponggawa (Puun Cibeo). Dalam kehidupan sehari-hari ketiga Puun itu berkuada penuh di daerah masing-masing. Tetapi dalam hal umum menyangkut seluruh Kanekes, barulah fungsi Tangtu telu itu berlaku.
Pada dasarnya ketiga posisi itu terdapat pula dalam masyarakat kita sekarang, yaitu Pemuka Masyarakat, Ulama dan Pemerintah. Apa yang diharapkan dari trio itu pada jaman Siliwangi, rasanya masih diharapkan juga dewasa ini. Tradisi tidak selamanya "usang". Anggap sajalah semua itu "wangsit Siliwangi" karena memang ditulus sebagai "perudang-undangan" pada jamannya.
Bagian akhir naskah Siskandang Karesian berisi anjuran agar orang tua tidak mengawinkan anak-anaknya yang masih di bawah umur "hanteu yogya mijodohkeun bocah, bisi kabawa salah, bisi kaparisedek nu ngajadikeun" (Tidak layak mengawinkan anak kecil, agar tidak terbawa salah, agar tidak merepotkan yang menjodohkan)
Bila kita perhatikan ajaran moral dalam jaman Siliwangi melalui naskah tersebut, mengertilah kita mengapa sikap Ratu Dewata yang bertapa dan keagamaannya, Ratu Sakti yang kejam kepada rakyatnya dan Nilakendra yang hidup penuh kekhawatiran dan mabuk-mabukan dengn mantera mantera karuhunnya sangat dicela oleh penulis Carita Parahiyangan "Aja tinut de sang karuwi polah sang nata" (jangan ditiru oleh yang kemudian kelakuan raja ini)]
Itulah beberapa warisan nilai budaya dari jaman Siliwangi yang sekarangpun tampaknya masih bisa dimanfaatkan sebagai SEUWEU-SIWI SILIWANGI (Sumber dipetik dari naskah Bpk. Saleh Danasasmita. 1983 dalam sejarah Bogor) Dari kesimpulan naskah yang telah dibuat pada masa kerajaan Pajajaran khususnya oleh Prabu Siliwangi tersebut diatas, begitu jelas begitu tinggi Filsofi dan aturan untuk mensejahterakan Rakyatnya sederhana tetapi mengena secara hubungan pertikal dan horizontal yang harmonis. Karena itu penulis mencoba mengajak pembaca sebagai generasi penerus untuk merenungi ajaran ajaran Beliau sebagai seorang Prabu Kerajaan Besar yang mencerminkan kesederhanaan kejujurannya dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, (bandingkan dengan pemimpin sekarang masihkah mementingkan rakyat kecil?)
Dan mari menghargai apa yang menjadi peninggalan pendahulu-pendahulu kita seperti prasasti situs patillasan, makam dan sebagainya yang menjadi bukti bahwa mereka pernah ada menggalang tata kehidupan masa lalu yang merupakan sejarah/cermin kehidupan untuk kita simaki , karena bukan tidak MUNGKIN kita menjadi bagian dari runtutan keturunan mereka yang memiliki kaitan langsung ataupun tidak langsung untuk membantu memelihara /merawat apa yang mereka tinggalkan/wariskan kepada kita sebagai generasi penerus..
Hormati dan hargai apa yang telah mereka letakan /bangun apa itu berupa prasasti atau benda bahkan makam nya sekalipun , tapi dengan kondisi saat ini yang menurut saya manusia sudah mulai melupakan apa yang mereka telah lakukan untuk tanah airnya ,bahkan dengan kesombongan dan ketamakan manusia sekarang, yang telah merasa modern dan kematerialisannya sudah tidak memperdulikan lagi kaidah menghargai yang semestinya itu pantas dipelihara sebagi sejarah atau peninggalan moyang kita, dengan keangkuhannya dimusnahkan hanya karena materi komersil pribadi , begitu naifnya prilaku manusia saat ini, bagaimana mungkin bisa dipertahankan keberadaan peninggalan budaya yang telah mereka letakan sebagai symbol bahwa mereka pernah ada menata bumi nusantara tercinta ini dan lihatlah serta renungi pituahnya tulisan diatas yang mengisyaratkan kita untuk jadi manusia baik.
Sekarang mari kita simak dan cermati keadaan manusia dan alam kita saat ini yang jelas sudah tidak bersahabatan lagi satu dengan lainnya, dikarenakan semua kembali kepada tingkah polah dari manusia sebagai mahluk yang mempunyai akal pikiran. Sebagai manusia yang dikodratkan sebagai Kalifah dibumi khususnya kita dibumi Nusantara, yang katanya mayoritas beragama Islam agama sempurna agama Rahmatan lilalamin yang seharusnya manusianya mendapat faedah dari agama yang diyakini tapi kenyataannya tidak semua mendapat rahmat seperti apa yang menjadi harapan pendahulu kita yang begitu gigih tanpa pamrih menyampaikan keyakinan ini untuk pegangan hidup kita untuk mencapai manusia dan bumi yang penuh rahmatan lilalamin, tapi apa hasilnya sungguh menyedihkan !! KENAPA ???
Mari kita intropeksi diri dan juga cermati disekitar kita , akibat tentu ada sebab ini hukum kausal terjadi nya gejala social manusia dan bencananya alam tidak semata terjadi begitu saja tanpa asal mula , bukan berarti semua manusia melakukan kesalahan yang bisa menyebabkan seperti kondisi seperti sekarang ini ,sebab azab Nya tidak mungkin tidak beralasan dan Dia tahu siapa yang salah dan siapa yang benar , tapi apabila semua itu merupakan kaum atau masyarakat yang menyatu pada suatu tempat/daerah azab tetap turun/terjadi pada daerah itu karena ulah dari manusia yang ada disekitar itu,bahkan bisa sampai kedaerah atau kaum lainnya yang berdekatan dengan daerah/tempat dimana azab diturunkan. Hal ini menunjukan agar kita menjaga/merawat bumi ini agar saling mengingatkan dan saling memper hatikan satu sama lainnya walaupun itu ada diluar kaum/wilayah kita,itulah kepedulian kita sebagai manusia terhadap alam nyata maupun yang “tersembunyi” sebagai mata rantai keseimbangan mayapada . APA ITU YANG “TERSEMBUNYI” ??
Saya kembali kepokok maksud penulisan ini kepada sejarah kerajaan ditanah Jawa yang pernah ada khususnya dan Nusantara umumnya. Disini saya mencoba menulis apa yang menjadi pemahaman saya mengenai hubungan kita manusia yang hidup dengan yang sudah tidak ada tapi “ada” ?? bagaimana mungkin? itu khayal atau imajinasi saja sifatnya ! ini konyol dan mustahil mana mungkin bung !? Ya memang begitu kebanyakan pendapat orang menyikapi hal ini , wajar wajar saja karena memang tidak nyata (ghoib) walau memang ada, hanya orang yang memang terpanggil dan mau merenungi kehidup an diluar nalar yang bisa mengerti dan meyakini bahwa “mereka disana ada”. Bagaimana mungkin dan bagaimana membuktikannya bahwa ini memang ada?!. Karena “sifatnya” memang tidak nyata agak sulit digambarkan secara nyata kecuali mempelajari “ilmunya” sebagai sarana mencapai dunia “itu”. Tapi ada gejala phenomena yang sebenarnya kita bisa tangkap pada kejadian alam atau kehidupan sehari-hari, tapi banyak yang tidak mau perduli kalau itu merupakan phenomena “keberadaannya” pada moment yang terjadi dikehidupan kita.Akibatnya setelah moment phenomena tersebut dinyatakan dalam bentuk pisik atau kejadian nyata baru morat marit kita menghadapinya, itulah manusia jaman sekarang yang mengaku modern zaman teknologi canggih tapi tak mampu mengantisipasi peringatan atau amarahnya “sesuatu” , dikarenakan kesombongan dan ego yang meracuni kehidupan manusia sekarang ini, menimbulkan ketidak pedulian,itu wajar kah? Atau ini disebut kelalaian kita berintraksi dengan alam semesta?” . Kita akan selaras dengan keyakinan yang kita anut dimana dijelaskan kita harus percaya dengan yang Ghoib. Apa itu Ghoib ?? pengertian secara umum yaitu tidak nyata/tidak Nampak tapi ada , bagaimana kita tidak percaya bahwa dunia ghoib itu ada,jelas dalam kitab Al-Qur’an atau kitab lainnya ada dijelaskan.
Disini saya ingin mengajak pembaca agar mengerti disisi kehidupan kita yang nyata ada juga dunia ghoib,yang sesungguhnya masih bertalian dengan kehidupan alam semesta untuk menjaga keseimbangan tatanan kelangsungan kehidupan,alam semesta “patuh” pada ketentuanNYA sampai ditentukanNya kapan berakhirnya jagat ini.
Kenapa bencana alam begitu berkesinambungan menggoncang bumi nusantara dari mulai banjir,gempa bumi,gunung yang mulai batuk,tanah longsor,kemarau berkepanjangan,angin yang memporak porandakan bahkan laut dengan ombaknya yang dahsyat menggulung sampai jauh keperbatasan pantai. Manusia yang berperilaku aneh dan berlebihan,lebih banyak mengikuti ego negative ketimbang yang positive,lihat prilaku yang diperbuat ; huru hara,tauran,kesombongan,kebohongan,keserakahan sampai menghalalkan yang haram. Ada phenomena apa gerangan sekarang ini dimuka persada Nusantara yang kita cintai ini?? Jangan salahkan perkembangan Zaman yang global ,kita bersyukur dengan kemajuan Teknologi dunia yang membuat kemudahan sarana kita melakukan aktivitas, Cuma bagaimana kita menyikapi , jangan semua kita telan bulat bulat perkembangan seperti ini dan jangan lupa kita punya kaidah adat istiadat yang dibekali oleh pendahulu kita agar kita selamat berjalan didunia menuju selamat sampai di”sana”. Faktor ini mulai pupus pada generasi sekarang ,hal ini adalah satu penyebab bumi Nusantara menangis dan marah.
Bermula dari kesombongan,kelicikan dan keserakahan manusia yang membuat alam tidak bersahabat lagi, banyak tempat yang harusnya kita hormati dan pelihara dibabat habis demi merauk keuntungan kelompok maupun pribadi,wilayah ada penguasa dan penduduknya, bukan begitu? Secara fisik mereka mudah menggeser atau mengatasinya karena kekuasaan dan uang, secara kasat mata memang dapat teratasi , tapi benarkah secara ghoib? Nanti dulu ! tidak semudah dia membenahi yang tampak dan apakah mereka mengerti akibatnya kepada tatanan kehidupan fisik maupun ghoib? Dan bagaimana tanggung jawab moril maupun psyhis akibat perbuatannya, yang kelak berkepanjangan bisa sampai antar generasi tanpa pandang bulu ,hal ini imbas “akibat” dari prilaku mereka, yang hanya melihat dengan sebelah mata dan nurani yang buta,fenomena ini bisa disampaikan dengan cara gempa bumi.badai dan lainnya yang pasti akan menelan korban jiwa disekitarnya.
Begitu banyaknya manusia serakah jabatan maupun harta terutama penguasa yang memang akan lebih mudah melakukan hal hal untuk melaksanakan ketamakannya dengan berbagai alasan demi kepentingan masyarakat , padahal sebenarnya untuk kepentingan pribadinya atau kelompoknya, Akibat yang ditimbulkan terhadap penganiayaan alam inilah berimbas kepada manusia yang masih hidup Yang parah lagi ,manusia yang harusnya melurusi atau mengayomi manusia dalam agamanya, malah ikut berbaur dengan manusia yang sudah terkontaminasi penyakit hati bahkan hanyut ikut terbawa arusnya. Terus siapa yang menyuluhi orang yang tersesat? Siapa yang menyembuhi/merawat orang yang hatinya sakit? Sungguh menyedihkan !! (apakah phenomena ini tidak tampak oleh kita?)
Dengan kesimpulan apa yang telah terlihat secara fisik atas perbuatan yang telah dan akan dilakukan jelas saya akan urai,tapi tidak secara gamblang hanya tersirat menurut keyakinan saya pribadi, karena ini sifatnya tidak merupakan science ilmiah,adapun pemahamannya saya kembalikan kepada masing masing pembaca bagaimana menyikapi dan menyimaknya.
Leluhur kita memang sudah tiada secara fisik tapi secara roh mereka masih ada, begitu juga dunia ghoib lainnya seperti Jin,Siluman atau sejenisnya yang juga ada bersemayam dekat berdampingan dengan kehidupan kita,jelas dunia mereka berbeda dengan kita ,aktivitas kita siang sampai tengah malam , aktivitas mereka malam sampai menjelang dini hari bukan berarti waktu ini baku (umumnya). Mengapa malam lebih dominan diisi kehidupan mereka?, karena memang kehidupan mereka bersebrangan dengan kita yang masih mempunyai jasad. Memang ilmu ini Allah SWT isyaratkan kita diberi pengetahuan hanya “sedikit” menurutNya. Tapi walau sedikit menurutNya kalau kita kaji dan simaki akan berguna juga buat bekal mengenal dan menyimaki alam “mereka” (terbatas).
Kita mecermati sebab akibat prilaku manusia sekarang ini dengan segala perbuatannya kepada tatanan alam termasuk mahluk ghoib. Apa yang menjadi kan perubahan sikap manusia yang tadinya penuh perdamaian menjadi saling bermusuhan,penuh kecurigaan dan rasa iri satu sama lainnya , hati yang terasuki hawa negative menguasai alam pikir dan perbuatan kita selaku manusia . “Tempat” atau wilayah yang tadinya menjadi tempat “mereka” ,terporak porandakan oleh kerakusan manusia “penaung” dan yang “dinaungi” tergusur oleh keserakahan pribadi atau secara kolektiv. “Mereka” tergusurkah ?? kemana perginya “mereka” ? kegunung,kehutan ,kesungai atau kemana? Seperti apa “mereka” menghadapi perilaku manusia terhadap “mereka” yang teraniaya ? pergi menyingkir atau justru berbalik menyerang kita dengan cara “mereka” sendiri ? point ini yang tidak kita sadari akan menjadi boomerang bagi kita dan generasi selanjutnya.
Mereka sekarang menyebar bahkan ada yang menyatu dengan pemukiman atau wilayah kita ,yang tanpa kita sadari “hawa” negative mempengaruhi prilaku kita , apalagi benteng iman kita lemah , tentu kita akan sangat mudah terpengaruh hawa sifat dasar “mereka” yaitu api dan kutukan serta azab dari keburukannya. “Beliau” yang “mengayomi” atau menjaga untuk mengawasi mereka kembali ketempat asal “pemberi tugas” menunggu perintah lebih lanjut dimana dan kapan bertugas. Tingkat pengetahuan kita disini terbatas, tapi bukan tidak ada, karena ada satu ayat yang menjelaskan bahwa “Beliau” ada digengamanNya.
Para aulia dengan kekaromahannya mampu menerapkan doanya untuk meredam gejolak “hawa” negative yang mengurung “mereka” untuk tidak bertebaran sesukanya,tapi apa lacur sekarang ini tidak sedikit manusia tidak menghargai “keberadaannya” (makom) untuk membantu kita dalam menjaga tatanan alam. Akibatnya “beliau” meninggalkan tempat/ wilayah tersebut dari bahaya yang akan ditimbulkan oleh alam maupun ghoib berhawa negative, dan menjadikan kerentanan kekuatan pertahanan disekitar area “pengawasannya” . Akibatnya tatanan yang sudah terbentuk (kedamaian) akan menjadi liar kembali (kehancuran/keberutalan}
Tidak sedikit manusia yang mengerti perihal ini ada,tapi untuk menyampaikan secara terbuka ada keengganan,karena lebih banyak manusia yang akan merespon dengan cemo’oh dan ejekan bahkan mungkin akan mengecapnya sebagai orang gila yang sok tahu, ironis memang !! Padahal apa yang harus disampaikan cukup beralasan, dan memang mereka melihat phenomena seperti itu melalui “ílmu” pengelihatan bathinnya, bukan melihat pakai kasat mata seperti kebanyakan manusia normal yang merasa lebih modern dan merasa lebih tinggi pendidikannya dan menganggap pengetahuan mereka kuno dan berbau mistis, yang sekarang bukan jamannya lagi hal seperti itu.Bukankah anggapan seperti itu namanya yang disebut kesombongan ? Padahal merekapun tahu ada kejadian yang diluar nalar kewajaran dan tidak semua hanya pakai Logika melulu.
Kalau ada sekelompok manusia pergi berziarah kesuatu tempat tokoh dahulu atau ulama terkenal pada masanya, sebagian manusia beranggapan itu musrik ,tak patut meminta pada Kuburan atau yang disebut Kramat ,memang itu dilarang oleh agama kalau mereka yang datang berziarah datang dengan maksud meminta pada tempat tersebut,tapi kalau datang untuk menghormati dan mendoakannya apa yang “beliau” telah perbuat yang sejalan dengan agama dan perintahNya serta menata kehidupan manusia menjadi lebih terhormat/baik ,itu merupakan salah satu refleksi kita untuk mengharagai dan mengingat perjuangannya ,bukan untuk meminta ! (Tak kenal maka tak sayang ). Negara yang besar adalah yang Pemimpin dan rakyatnya menghargai pejuang pendahulunya termasuk “beliau” tentunya..
Musibah yang saat ini silih berganti melanda bumi kita ,ini sebenarnya tak luput dari refleksi prilaku manusia sekarang ini yang sudah banyak atau jauh menyimpang dari kaidah agama maupun budaya warisan yang ditata pendahulu kita, kalau menurut saya pribadi sekarang ini zaman zahiliyah modern. Banyak gejala-gejala keanehan yang sangat menyolok yang mendekati prediksi “orang tua” dahulu ,bahwa diujung zaman nanti prilaku manusia dan perkembangan seperti apa yang disebut seperti keadaan sekarang, misalnya, Kelak anak kecil melahirkan, wanita seperti lelaki dan sebaliknya, mendewakan materi,rumah berdempeten seperti belukar dan seperti goa goa digunung (apartemen} , seorang ibu melahirkan majikannnya dan lain sebagainya phenomena akhir jaman . Penulis bukan bermaksud menakut-nakuti atau mengada-ada, tapi mari kita renungi dan menyimak keadaan sekarang sikap manusia yang sudah jauh dari rasa toleransi dan kepedulian satu sama lain, sebagai sikap sosialisasi manusia yang telah dibina dan diwariskan oleh leluhur kita, sudah nyaris musnah tak berbekas. Dikota kota besar yang disebabkan dengan nilai komersil yang tinggi, banyak tanah/ wilayah makam atau situs atau bangunan sejarah yang digusur untuk ketamakan sekelompok individu dengan berbagai alasan sampai menjual kepentingan masyarakat, yang sebenarnya itu alasan bertopeng kerakusan manusia yang tamak, hasilnya semua ini akan berimbas pada kita dan terutama juga pada mereka dan keturunan yang merekayasa kepentingan pribadi/kelompok, sehingga terjadinya penggusuran hal tersebut diatas. Dan banyak penguasa/pejabat atau bahkan individu yang merasa kuat perkasa dengan kelompoknya melakukan perbuatan yang terlarang oleh agama. Dengan kata lain mereka menikmati rezeki yang bukan haknya alias haram,dan hasilnya diberikan/ dinikmati oleh kelompok /individu dan keluarganya masing-masing, dengan begitu berapa banyak virus kebusukan hati yang tersebar meracuni darah manusia yang akan terefleksi kelak dengan prilaku yang diperbuat oleh mereka, SADARKAH ?!
Ini sejalan dengan hadis dimana makanan haram yang kita makan akan menghasilkan gelembung dalam darah yang isinya adalah sifat iblis,kalau begitu apakah manusianya juga akan berperilaku seperti iblis?, mari kita intropeksi diri dan melihat sekeliling kita, keturunan atau mereka bagaimana cara mencari rezekinya dan bagaimana prilaku keluarganya dan adakah azab dunia yang disegerakan olehNya kepada kita,kepada kelompok atau pada daerahnya?. Kenapa begitu?? Saya fokuskan pada tergusurnya hutan,makam dan situs tua, bagaimana mereka yang tergusur? padahal sudah lama bahkan ada yang sudah berabad keberadaannya ditempat itu, tiba-tiba mereka tergusur, tempat mereka dieksplorasi oleh ketamakan manusia dengan tidak menghiraukan “mereka” yang menghuni areal tersebut, mereka ada sama seperti kita berkelompok,berkeluarga berperikehidupan dan bahkan ada yang berpetualang. “Kehidupan” yang memang juga kodrat dariNya, begitu juga dengan keyakinan yang dianutnya. Bagaima kesinambungan mereka dengan tergusurnya mereka dari tempatnya,kemana “mereka” berpindah?? Memang ada yang dengan legowo “mereka” menyingkir ketempat yang lebih “aman” ,tapi banyak juga yang menyebar bahkan memasuki kehidupan manusia bersama-sama menempati tempat yang sama,atau diareal tempat kita bermukim. Lalu bagimana pengaruhnya pada kita dan keluarga kita? Saya kembalikan kepada pembaca bagaimana benteng iman kita selaku manusia yang beragama, apakah kita dan keluarga sudah berusaha untuk menjalankannya dengan sebaik baiknya sesuai yang diajarkan Nabi dan Kitab kita. Dalam agama Islam jelas doa awal kita untuk berlindung padaNya dari godaan Syetan yang ter kutuk ,apakah ini sekedar penghias bibir atau benar-benar kita memohon padaNya perlindungan dari bisik-bisik,pikir dan perbuatan Syetan ? Kembali kepada KITA !
Mari kita merenung sudah berapa lama dan berapa banyak kesalahan manusia melakukan kedholiman dan merusak tatanan alam baik nyata maupun ghoib, sekarang mulai terlihat persekongkolan hawa nafsu manusia dan “hawa” negative yang liar menyebar disekitar kita ibarat kayu berminyak ketemu api, membakar meninggalkan arang atau debu, emosi membara, keserakahan berkobar kecurangan menghanguskan ,akal sehat dan nurani tertutup asap hitam nan tebal ini tercermin dengan kebanyakan prilaku manusia sekarang ini, terutama mereka yang hidup dikota besar,akan mudah tergulung “hawa” yang bergerilya menghancurkan qolbu,meruntuhkan keimanan , hanyutlah mereka tergulung bahtera api. Hanya mereka yang memahami phenomena ini dan keimanan yang tebal tak akan banyak terpengaruh,begitu juga mereka yang berdomisili ditempat yang jauh dari hasil kedholiman (tempat terpencil) qolbunya tak terkontaminasi virus hati yang sakit dan “hawa” negative yang memang laskar atau jajahan Syetan yang sudah jelas musuh kita sebagai manusia.
Penulis disini hanya mau menyampaikan hargailah mereka pendahulu kita yang aulia dan mulia yang meninggalkan garis garis filsafah dan ajaran ajaran akidah menuju “selamat beragama,berprilaku dan bathin kita”. Seperti wajengan di pendahulu kalimat tulisan diatas walaupun mungkin secara agama berbeda (hanya sebutan} tapi sebagai pendahulu atau karuhun kita yang begitu tinggi nilai ajarannya terhadap tatanan kehidupan manusia dan alam ada baiknya kita simak,hayati dan laksanakan ajaran tersebut yang memang tidak jauh beda dengan kaidah atau ajaran agama yang kita yakini, karena memang sejalan.
Lalu bagaimana dan dimana keberadaan “Beliau” para aulia, para pendiri daerah / wilayah bahkan pendiri negeri zaman dahulu itu disemayamkan / dimakamkan? , hanya sebagian kecil yang masih terpelihara, sebagian besar tak tahu rimbanya, sebagai bagian dari sejarah Nusantara apa mereka tak patut dikenal, dikenang dan dihargai ? dengan melestarikan atau memelihara momentum keberadaannya yang cuma memerlukan tempat yang sedikit dibanding jasa yang dilakukan untuk negeri sekarang ini yang kita ikut menikmati buahnya. Penulis ambil contoh ada salah satu dari seorang Prabu (Pajajaran) yang persemayaman terakhirnya harus menyerah pada salah satu Pengusaha Realestat dan dikamuplasekan untuk tidak lagi dikenal dan didatangi oleh orang yang masih menghargai falsafah dan perjuangannya (ini didaerah Bogor) ,ada lagi didaerah Bojong Gede salah seorang tokoh wanita,masih beruntung karena menyatu dengan pemakaman umum, tapi dilingkung oleh kawasan Perumahan, apalagi nasib situs “Gagang Golok” sangat menyedihkan tak terawat itupun sudah terapit oleh tanah yang berkavling, kalau tanah tersebut dibangun rumah entah bagaimana nasibnya dikemudian hari. Begitu pula “nasib “ pendahulu-pendahulu kita banyak [mungkin] yang sudah tergusur dan punah (secara fisik).
Disini mereka yang mau mengenal sejarah “Beliau” akan mencoba menggali sejarah perjalanannya ,siapa “Beliau” darimana dan bagaimana bisa sampai disemayamkan disana, dengan cara menziarahi dan mendoakannya,kalau Allah SWT berkehendak mengizinkan “Beliau” dan juga factor keberuntungan / kebersihan jiwa, orang tersebut akan mendapatkan informasi langsung dari “Beliau” bahkan akan berkomunikasi yang bisa berkesinambungan. Dengan mendapatkan pengalaman seperti inilah orang baru bisa menghargai keberadaan “Beliau “ dan orang tersebut mendapat pengalaman spiritual yang luar biasa yang kebanyakan orang tidak mengalami, dan akan mendapat cerita/perjalanan, yang seandainya dibicarakan dengan orang biasa tak akan nyambung bahkan akan dianggap hayalan atau dongeng, apalagi bagi mereka yang menganggap dirinya lebih banyak tahu ilmu teori keagamaan yang tersurat,bisa dianggap orang ini musyrik! ?. Tapi kalau hal ini disampaikan kepada orang yang mengerti dan orang yang mempelajari agama ilmu torekat (ada dalam perjalanan suluk) ,mereka akan memahami atas pengalaman spiritual seperti itu.Kadang dengan dorongan hati dan keinginan yang sungguh sungguh hasil dari pengalaman spiritual ini manusia akan mencari tempat sepi atau hening agar bisa lebih dekat bertafakur, zikir, bertawasul dan lainnya untuk bisa lebih dekat denganNya, karena paling tidak orang seperti ini (telah mendapat pengalaman spiritual) telah dibuktikan olehNya walau “Beliau” sudah wafat, tapi rohnya masih bisa berintraksi dengan manusia hidup,untuk ini tentu dengan “ilmu”nya.
Disini penulis berkesimpulan mengapa banyak para tokoh lebih banyak berada di goa atau dilereng gunung atau ditempat-tempat sepi lainnya. Kalau penulis simak dan dikaitkan kepada perjalanan awal Nabi Muhammad SAW untuk mendekat kepada Maha Pencipta dengan menyepi di Goa Hiroh , berarti sesungguhnya “Beliau” melakukan sunah dengan caranya masing masing untuk mengenal dirinya dan mengenal “Rob”, bahkan banyak yang untuk mengahiri hayatnya “Beliau” tetap disana dan disemayamkan sisekitar itu (atau atas permintaan “Beliau”). Akhirnya bukan tidak disengaja bahwa dipegunungan banyak makam atau kramat, karena mereka melakukan penyatuan hati ditempat seperti itu (biasanya Gunung/bukit). Begitu juga para resi ,tokoh Sakti,pendeta budha/hindu memulai dengan menghening cipta diri dan mengakhiri hayatnya ditempat seperti itu, maka jangan heran atau waksangka kalau orang berziarah kegunung bukan semata mau muja/ngiprit, lihat dulu siapa yang didatangi (diziarahi) dan apa maksudnya atau keperluannya.
Berbeda dengan Tokoh yang memang mempunyai wilayah dan diangkat sebagi penguasa wilayah ,“Beliau” bersemayam atau dimakamkan diarea kekuasaannya dan terawat oleh murid atau generasi penerusnya, sampai kini banyak yang masih dipelihara /terjaga dengan baik contohnya tokoh Wali Songo dan beberapa lokasi makam Raja-Raja (terutama masa ke Islaman) ,tapi bagaimana dengan “Beliau” Senopati,Pendekar dan Aulia dibawahnya bahkan Raja-Raja zaman sebelum Islam masuk ke bumi Nusantara,dimana makam “Beliau-Beliau” berada dan bagaimana kita dapat menemui atau mengenalnya? ,sejarah dalam buku yang kita pelajari disekolah hanya sedikit yang menyentuh kebenarnya,hanya garis besarnya saja jauh dari pada sejarah perjalanan “Beliau”, contoh : dimana kita bisa menemukan makam Prabu Purnawarman,Citrawarman, Prabu Prabu Pejajaran ada berapa dan dimana Makamnya, banyak yang tidak dapat dijelaskan baik oleh sejarawan apalagi orang biasa akan lebih awam bahkan membingungkan, KENAPA BEGINI ?? Katanya negara yang besar dan santun adalah yang Negara dan rakyatnya menghargai Pahlawannya…….rupanya hanya hiasan bibir belaka.
Ini akibat banyak manusia yang tidak perduli dengan sejarah leluhurnya,bahkan kalaupun diketemukan benda peninggalannya diambil untuk dimiliki atau dijual belikan,yang lebih parah dipalsukan kemudian aslinya dijual sampai ke luar negeri yang tragis justru manusia yang dititipkan/ditugaskan untuk merawat atau menjaga benda bersejarah tersebut yang melakukan “kecurangan” karena ketamakannya atas materi ,lupa akan amanah.
Akhir kata mari kita tapak tilas sejarah diri dan runtutan leluhur kita ,sebagai refleksi penghormatan kita dan menjaga tradisi dan ajarannya yang saat ini menjelang kepunahan , mungkin besok anak cucu kita mungkin akan menjadi aneh ada adat budaya atau tradisi yang telah lama terasingkan apabila ditampilkan pada masa mereka,ini disebabkan ketidak tahuan mereka akan budaya bangsanya, yang kalau kita tidak perdulikan akan banyak adat istiadat atau budaya nenek moyang kita yang akan punah dan tak pernah kembali lagi, apalagi saat ini generasi muda lebih merasa trendy dengan gaya luar negeri yang jauh dari adab norma bangsa kita yang santun,cara cara berpakaian,cara berprilaku,cara menghargai waktu dan banyak lagi phenomena yang akan menghancurkan moral generasi kedepannya. Jalankan ibadah kita kepadaNya sesuai dengan keyakinan masing masing untuk lebih membentengi hati,telinga,mata kita dari prilaku seperti sekarang ini, yang menurut penulis sangat memprihatinkan ,sangat mengahawatirkan sudah tidak ada lagi apa yang disebut “tabu” atau terlarang dan tata krama pada saat ini.
Uraian ini ditambahkan sebagai pelengkap dengan maksud memandang ke sisi lain tempat orang-orang tua yang bijak merenungkan sesuatu di luar wujud materi. Manusia modern pernah beranjak terlalu jauh dan menganggap dirinya berhadapan, bahkan berhak untuk menaklukkan alam. Namun pengalaman membuktikan bahwa mereka hanya sebagian dari alam itu. Menaklukkan alam berarti memusnahkan diri sendiri karena lingkungan hidup itu BUKAN UNTUK PARA PENGHUNINYA, melainkan TERDIRI ATAS PARA PENGHUNINYA.
Semoga apa yang penulis sampaikan disini dengan segala kekurangannya akan menjadikan renungan bagi kita untuk menata kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat lebih mawas diri dan bisa menghargai lingkungan alam dimana kita berada, sesuai falsafah kuno , “ucap,tekad,lampah sing hade ,dimana bumi dipijak disitu rizki dan saudara kita berada”, InsyaAllah ini akan menjadikan kita selamat.
Wabillahi taufik wal hidayah assalammualaikum wr wb
Ki M.Asykar Tsaqif Al-Safar (medio 2009)

begitu harusnya manusia bersikap untuk keseimbangan tatanan ,manusia hidup dengan alam sekitar kita
BalasHapus